Angin
Angin,
anggap saja aku sahabatmu yang akan selalu mengiringi jalanmu. Angin, abaikan
saja aku, dan tetaplah melangkah menuju mimpimu. Kamu, sang Angin yang aku
dambakan, yang meniupkan hawa kegembiraan padaku. Kamu, Angin yang entah
datangnya dari mana, tapi tetap aku kagumi. Angin, salahkah aku bila
mencintaimu? Mungkin kah ini hanya cinta satu arah? Angin, kenapa kamu biarkan aku merasakan ini. Tidakkah kamu tahu, wahai Angin. Aku selalu
disini, memandangmu, mengagumimu disetiap waktu luangku. Angin, bukan maksudku
menyalahkanmu, tapi biarlah aku meceritakan semua perasaanku padamu. Angin,
bukan maksudku menyimpan dendam dihati. Bukan maksudku juga, meninggalkanmu
disaat kamu terpuruk. Angin, maafkan aku atas sikapku yang egois. Tapi, apalah
daya, aku sudah tidak bisa berpura-pura seperti dulu lagi. Sekarang semuanya
telah berbeda, aku lelah menjalani hari-hari dengan penuh kebohongan atas
perasaanku sendiri.
“Mat, lagi apa?” Seru Dyn.
“Lagi nonton film nih, jangan
ikutan ya.” Sambil menutupi layar laptopku agar tidak terlihat Dyn.
“Kenapa sih, lo kalo nonton film
gak pernah mau ngajak-ngajak orang? Curang bangeeeet. Liatin aja, nanti gue
balas dendam.” Ungkapnya.
“Apa sih Dyn, balas dendam itu gak
baik tau. Hahaha.. Udah ah, gue lagi serius nonton film nih.”
Kemudian kita sibuk dengan urusan
kita masing-masing, kamu yang sibuk dengan tablet mu, dan aku yang sibuk dengan
laptopku. Dalam diam aku memandangmu, Angin-begitulah aku memanggilmu dalam
setiap jurnalku. Tidakkah kamu tahu, apa arti dari perkataanku? Mungkin bukan
salahmu, jika kamu tidak mengerti maksudku.
“Matahari!!!! Udah selesai belum
sih nonton filmnya? Guekan mau ngajak lo ke stadion.” Tutur Dyn kepada ku,
walaupun sebenarnya dia masih fokus menatap layar tabletnya.
Aku tidak memperdulikan ucapannya,
dari tadi aku memang telah selesai menonton film dilaptop. Mungkin dia yang
tidak sadar, jadi aku melanjutkan menonton film lain.
“Mat, kok ditanya diem aja sih?”
Tanya Dyn, lagi.
Kali ini aku juga tidak menjawab
pertanyaannya, aku hanya langsung membereskan semua barang-barangku yang
berserakan diatas rumput yang sedang aku duduki. Sekarang, aku sedang berada di
taman komplek tempat aku dan Dyn biasa bermain. Entah kenapa, kita memang
sangat menyukai tempat ini. Seperti ada kekuatan magis yang aku dapatkan dari
tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan ditempat ini. Aku berhenti sejenak, kemudian
melihat ke sekelilingku. Kupu-kupu terus berterbangan kesan-kemari, pucuk pohon
bergoyang karna tiupan sepoi angin. Namun, karna menyadari awan semakin gelap,
akhirnya aku melanjutkan membereskan barang-barangku.
“Dyn, gue udah mau pualng, lo ikut
gak? Duluan ya, byeee.” Kataku seraya menjauh darinya.
“Oke, see you. Take care yaaaw.”
Balasnya.
Aku pun terus melanjutkan jalan
sambil tersenyum-senyum, aku yakin betul kalau Dyn memang tidak menyadari
kepergianku. Biarkan saja, dia memang selalu begitu. Tunggu saja aku berjalan
hinggap 3 meter menjauh darinya, pasti dia langasung mengejarku. Atau kita juga
bisa hitung hingga 10 detik, dia pasti langsung menjerit memanggil namaku.
..5..6..7..8..9..10.
“Matahari!!!!! Stop-sekarang-juga.
Matahari!!!” Teriak Dyn dari tempatnya.
Bukannya diam dan menunggu Dyn
menghampiriku, aku justru berjalan dengan cepat. Dan disaat aku melihat Dyn
berjalan dengan cepat menuju diriku, aku pun langsung berlari menjauh darinya
sambil terus tertawa terbahak-bahak. Sampai akhirnya, Dyn menarik tanganku dan
hampir membuatku jatuh. Bukannya marah kepada Dyn, aku justru dibuatnya tambah
tertawa terbahak-bahak karan melihat ekspresi Dyn yang ketakutan.
“Mat, gila lo. Tadi kenapa lo
niggalin gue sih? Dan kenapa lo gak bilang-bilang kalo lo pulang duluan? Aaaaa,
padahal gue kan udah nungguin lo. Jahat banget siiiiii.” Tutur Dyn masih dengan
suara yang tersenggal-senggal.
“Well, sebenernya sih gue itu gak
ninggalin lo ya. Kan lo sendiri yang bilang ‘see you’, ‘hati-hati dijalan ya’
dan apalah itu semacamnya. Hahahahaaaa... Mampus tuh kan, inget gak sih lo?
Hwahahah..” Balasku sambil terus tertawa terbahak-bahak.
“Aaaa, emang sih kayaknya gue bilang
begitu.. Eh, udah yuk, cepetan, udah mulai gelap nih. Tuh kan, gue udah mulai
digigitin nyamuk, darah gue itu manis, Mat. Duh ilah, kayaknya gue sebentar
lagi bakalan mati gara-gara kekurangan darah.”
“Stop. Jangan bilang kalo lo itu
kekurangan darah karna si nyamuk-nyamuk kebon itu ngisepin darah lo.”
“Thats right Matahari..”
‘Dyn, lo itu cowok. Tapi kenapa lo
begitu lembut? Dan kenapa sikap manjamu seperti anak perempuan? Dyn-dyn.
Suka-suka lo aja deh.’ Tuturku dalam hati.
Kemudian, aku dan Dyn berjalan
menuju rumah secara beriringan. Kami terus bercanda, melontarkan
lelucon-lelucon aneh yang kami anggap sangat lucu. Sesekali, aku meliriknya dengan
seksama, mengagumi wajahmu, mengagumi senyummu yang menawan. Dan saat aku
sedang tertangkap basah sedang memperhatikan setiap lekuk mukamu, aku hanya
bisa berpura-pura sedang tertawa kepadamu. Angin, bisakah aku terus bersikap
seperti ini kepadamu? Apa aku boleh bersikap seolah-olah perasaanku masih sama
seperti yang dulu. Angin, jawab aku.
Aku dan Dyn memang sudah bersahabat
dari dulu, mungkin semenjak kami masih balita. Ya, sebenarnya faktor yang
membuat kami bersahabat karna pekerjaan orang tua kami. Terus terang, orang tua
kami berdua memang berteman. Papaku adalah atasan Papa Dyn, dan mereka berdua selalu
secara kebetulan di tugasi ditempat yang sama dan dalam proyek yang sama untuk
waktu 20 tahun oleh perusahaan mereka. Aku tahu kenapa papa menerima pekerjaan
itu, apalagi kalau bukan karna gajinya yang seimbang dengan kebutuhannya, bisa
dibilang sedikit melampaui. Dan dari perusahaan papa juga sudah menyediakan
berbagai macam asuransi untuk papa,. mama, dan aku. Dan tempat papa bertugas
juga bukan merupakan daerah pedesaan yang terpelosok, melainkan daerah pedesaan
di pinggir kota besar. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana jadinya desa yang aku
dan keluargaku tinggal saat ini. Ya, sebenarnya tidak terlalu beda dari desa
yang lain. Yang membedakan hanya sekolah-sekolahnya, rumah sakitnya, dan
transportasinya. Sedangkan dengan alasan apa papa Dyn menyetujui ditugasi ke
daerah ini, papa bilang dia juga tidak tahu, karna sebelumnya mereka tidak
terlalu akrab. Tapi sekarang sudah akrab kok, mungkin karna medapatkan tugas
didalam proyek yang sama.
Yang aku heran dari Dyn. Dari dulu,
sikap manja Dyn tidak pernah seperti ini. Sudah hampir satu bulan Dyn selalu
memperlihatkan sikap manjanya yang seperti anak perempuan itu kepadaku, aku
sendiri tidak mengerti maksud Dyn. Tapi, mungkin ada saatnya dimana seseorang
akan bersikap seperti lawan jenisnya hanya untuk beberapa saat. Mungkin saja,
itu sih hanya menurut pendapatku saja. Ah, tapi aku tidak terlalu memperdulikan
hal tersebut.
Kemudian sekelibat bayangan wajah
itu muncul di pikiranku, saat dia tersenyum, tertawa, mengajakku bertukar
pikiran. Semua tingkah yang pernah iya lakukan denganku, terus berputar
dikepalaku sampai-sampai aku ingin berteriak, berteriak sekencang aku bisa.
Berter...
*dordordor! Dordordor!* suara
gedoran pintu.
“Mata! Buka pintunya sayang! Kamu
gak kenapa-kenapakan didalam? Mata! Jangan buat papa dan semua yang ada disini
khawatir. Mata buka pintunya atau..” belum sempat papa melanjutkan perkataanya,
aku sudah terlanjur membuka pintunya dengan memasang wajah memelas.
Dan kalian tahu apa yang aku lihat
setelah membuka pintu kamarku? Aku sudah melihat papa mengambil ancang-ancang
untuk medobrak pintu. Sejujurnya, aku ingin tertawa saat aku melihat papa, Pak
Toto (supirku), Mang Diri (tukang kebun dirumah) memasang wajah serius mereka
untuk mendubrak pintuku. Tapi, aku mengurungkan niatku, saat ku lihat ada mama
dan Bibi Tipo (pembantuku) sudah memasang wajah sedih, aku tahu mereka pasti
sangat cemas. Tapi, bukankah aku tidak melakukan hal gaduh apa-pun didalam
kamar? Tapi ya sudahlah ya, aku lebih baik mendengarkan mereka yang ingin
berbicara. Kemudian, setelah melihat aku dalam keadaan baik-baik saja, mereka
semua pergi, kecuali mama dan papa. mereka berdua justru memilih masuk ke
kamarku dan duduk di karpet di sebelah keranjangku.
“Mata, ada apa?” Tanya mama.
“Gak ada apa-apa kok, aku tuh tadi
lagi mimpi kalo aku seneng banget, terus aku teriak-teriak deh. Terus tiba-tiba
papa malah gedor-gedor pintu kamar, jadinya aku bangun.” Tuturku.
“Jadi, tadi itu
kamu cuma ngigo? Aduh, lagiannya sih. Kan papa udah bilang kalo pintu kamar itu
gak perlu dikunci-kunci.”
Kemudian, aku
meminta maaf kepada mereka berdua. Dan merekapun berlalu begitu saja, tapi
sebelum mereka benar-benar pergi dari kamarku. Mereka menatapku dan melemparkan
senyum, kemudian mengucapkan selamat itdur. Manis sekali bukan tingkah mereka?
Itu sebabnya aku tambah sayang kepada kedua orang tuaku. Tapi, tetap saja, aku
masih suka berbohong kepadanya. Kalian tahu? Semua perkataan yang aku ucapkan
saat mereka menanyaiku tadi, itu semua bohong. Aku sengaja seperti itu, karna
aku tidak ingin diomeli malam-malam begini. Sebenarnya, aku memang teriak,
sebenarnya teriak juga bukan niatku sih, hanya saja tadi aku keceplosan teriak
saking gembiranya.
Kemudian
ponselku berbunyi. Ternyata telpon dari Dyn, tanpa berpikir panjang lagi, aku
langusng memangkat telepon darinya.
“Apaa?” Tanyaku.
“Terima video
call gue ya, Mat.”
“Cuma itu? Jadi
lo nelpon gue cuma gara-gara itu? Hadeuuuh, please deh. Yaudah deh, bentar ya.”
“Okeee.”
Kemudian sambungan telepon terputus.
Karena aku akan
melakukan video call dengan Dyn, maka aku berfikir harus merapikan rambutku
yang sudah sangat tidak bisa diartikan apa maksudnya ini. Kemudian, dengan
bingungnya aku menyisir rambut ku yang alhamdulillah tidak kusut. Dan aku juga
berpura-pura tidur dikasur, agar Dyn mengira bahwa tadi aku akan segera tidur.
Beberapa menit kemudian, video call dari Dyn pun aku terima.
Kami kembali
seperti biasanya, tertawa, mengejek, dan apalah segala macam yang kami anggap
menyenangkan. Terkadang kami hanya saling terdiam untuk beberapa detik, tapi
kemudian tertawa lagi. Kamu tahu Angin kenapa aku terdiam beberapa detik? Itu
karna aku ingin mengagumimu lagi, tapi bukankah aku terlalu berlebihan? Karna
disetiap aku bertatapan denganmu, aku pasti selalu mengagumi wajahmu, Angin.
Tapi, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul satu malam, aku juga tidak menyangka
kalau Dyn akan bertahan dalam waktu yang selama ini. Bayangkan saja, dari jam
10 malam hingga jam 1 pagi. Dan karna aku tidk tahan lagi dengan obrolan ini,
aku pun lama-kelamaan terlelap tanpa memperdulikan Dyn yang sepertinya masih
terus berbicara panjang lebar dan ngawur sekaligus gak nyambung dengan
pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya. Tapi kalian tahu, sebenarnya, sejak jam 11
Dyn sudah mematikan kamera video callnya, aku juga tidak mengerti dan sejak jam
11 itu dia tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaanku, sekalinyapun menjawab
pasti itu gak nyambung, dan aku hanya bisa bilang ‘terserah’. Tapi, aku tidak
memperdulikan hal tersebut. Dan sepertinya aku sudah terlelap dan saat aku
bangun, jam dinding di kamarku sudah menunjukan pukul 6.15 a.m. kalian tahu
bukan apa artinya? Ya, artinya aku hampir telat masuk sekolah.
Dengan
mempraktekan jurus mandi cowboy yang aku pelajari dari om ku, akhirnya aku bisa
mandi dalam waktu 5 menit. Haaaa, jangan difikirkan, kalian pasti sudah
menebak-nebak pasti tidak akan ada aroma harum yang keluar dari tubuhku, dan
itu adalah kenyataanya. Dan 10 menit kemudian aku selesai memakai semua atribut
sekolah. Sebenarnya sudah pukul 7.00 a.m. tapi aku tetap berniat masuk sekolah
karna hari ini ada ujian matematika dasar, tanpa berpikir apapun, aku langsung
meminta Mang Diri untuk mengantarku menggunakan motornya yang sudah terparkir
diluar rumah, padahal itu sama sekali bukan tugasnya. Mungkin Mang Diri
bingung, jadi dia langsung saja melakukan apapun yang aku perintahkan. Tidak
perlu waktu sepuluh menit, akhirnya aku tiba di sekolahku, karna pintu gerbang
sudah ditutp aku langsung pamit kepada Mang Diri dan langsung memanjat pagar
yang ada di samping sekolah, karna itulah jalan saut-satunya agar aku bisa
masuk kedalam sekolah. Mang Dirir yang melihat kelakuanku hanya
menggeleng-geleng dan kemudian pergi.
Tapi sayangnya,
saat aku akan memasuki ruang kelasku. Aku tertangkap basah oleh kepla sekolah
bahwa aku adalah murid yang telat, dia tidak memusingkan dari mana datangnya
aku, tapi dia langsung mengantarku menemui guru piket. Alhasil, aku dihukum dan
ya, seperti sekolah pada umumnya, hukumannya itu tidak jauh dari hormat bendera
dan diberi name tag ‘AKU TELAT LHO. EH TADI KETAHUAN, JADI DI HUKUM DEH.’ Lucu
ya, name tagnya. Tapi ketahuilah, saat kalian berada diposisiku, tulisan ini
tidak akan lucu, dan kalian akan membencinya.
Untung guru
piketnya memberikan aku izin mengikuti uljian matematika dasar, jadi aku tidak
perlu melakukan ujian susulan bulan depan, dan itu juga kalau aku lulus ujian
matematika dasar. Tapi, jangan kalian pikir dengan guru piket yang memberiku
izin ujian matdas, lantas jam hukumanku berkurang. Tidak, dan tidak akan. Gurur
piket menjamin, kalau besok aku harus hormat bendera merah-putih lagi, selama 3
jam. Karna hari ini aku menggunakan waktu 3 jam itu untuk ujian matdas.
Dan akhirnya,
hukuman untuk hari ini selesai. Tapi, aku sama sekali belum melihat Dyn. Apa
dia gak masuk? Aku juga gak tahu, sudah satu bulan ini Dyn tidak pernah
memberitahu kabarnya kalau tidak ditanya.
“Mat. Hukuman lo
kayaknya udah selesai deh.” Seru seseorang dari belakangku.
Aku tahu,
hukumanku memang sudah selesai. Lalu, apa urusan orang ini. Karena aku tidak
terlalu memperdulikan ucapannya, aku terus berjalan menuju ruang kesiswaan
untuk menyerahkan semua atributku dan melaporkan bahwa hukumanku hari ini telah
selesai. Tapi, mungkin si orang yang tidak aku pedulikan ini terlalu sok peduli
padaku, dia terus berbicara berbagai macam hal di belakangku. Padahal, aku
sendiri masih belum tahu mukanya, suaranya bindeng kayak orang flu gitu, ya aku
makin gak tahu siapa dia, dan aku juga lagi gak ingin tahu.
“Mat! Stop. Lo
itu ya, dari tadi gue ngomong panjang-lebar tapi gak lo tanggepin, gimana sih
lo?” Kata orang itu sambil menarik
tanganku untuk berhenti.
“Ya! Lo itu
siapaa s...”Akupun langsung terdiam saat mengetahui kalau yang berbicara adalah
Dyn.
“Hukuman lo itu
udah selesai, Mat. Lo mau ngapapin lagi sih?”
“Dyn! Jadi dari
tadi itu lo? Ya ampun, kok gue baru liat lo sih?” Tanyaku.
Namun sayangnya
Dyn hanya menjawab dengan gidikan bahu, mungkin maksudnya ‘gak tau’. Akhirnya,
aku dan Dyn berjalan beriringan menuju ruang kesiswaan. Saat tiba disana, Dyn
menungguku diluar, aku tidak menolak, karna hari ini aku ingin nebeng pulang
bareng Dyn. Lama, mungkin sekitar 30 menit aku diceramahi oleh guru bk. Dan
saat aku keluar dari ruangan ini, Dyn sudah tidak ada. Aku coba telfon dia,
tapi gak diangkat. Aku sms dia, kayaknya diabaikan, di bbm gak di read. Di
whatsapp sama di line juga gak di read. Akhirnya aku mutusin untuk pulang
sendiri, terpaksa harus jalan kaki, karna aku gak bawa sepedah.
“Matahari!” Seru
seseorang. Akupun langsung menengok ke sumber suara.
“Eh, Kak Bagas”
“Pulang sendiri?
Biasanya sama Dyn, eh tapi akhir-akhir ini aku udah jarang liat kamu pulang
bareng Dyn.”
“Ohhh, iya. Aku
juga gak tau kenapa, kayaknya akhir-akhir ini si Dyn sibuk gitu sama sesuatu.
Dia juga gak cerita sibuk apa, sebenernya tadi kita pengen bareng, mungkin
karna nungguin aku kelamaan, jadi dia pulang duluan.” Jawabku lantang.
“Hemm, yaudah
kalo gitu bareng aku aja.” Katanya.
“Tapikan kita
gak searah.” Ucapku.
“Gak apa kok.
Aku sekalian pengen tahu rumah Dyn, kan aku udah lama kenal sama kamu, dan aku
juga udah tahu kalo kamu itu sahabatan lama banget sama Dyn, jadi gak apa kan,
kalo aku sekedar tau rumah Dyn. Nanti tunjukin ya.” Pintanya.
“Hah? Hehehh..
Tapi seriusan kan ya?” Tanyaku meyakinkan.
“Iya, seirusan.”
Jawabnya sambil melambaikan dua jari.
Kemudian aku
menaiki motor Kak Bagas, dan kami mulai berangkat menuju rumahku. Di perjalanan
kami tiada hentinya mengobrol. Tapi, Kak Bagas lebih banyak bertanya tentang
Dyn. Aku juga tidak tahu kenapa, mungkin Kak Bagas ingin meminta Dyn untuk
masuk ke ekskulnya, nantinya.
“Nah, stop kak.”
Kataku dan motorpu berhenti.
“Itu tuh, yang pagernya
warna abu-abu itu rumah Dyn.” Kataku sambil menunjuk rumah yang terletak
disamping kanan depan rumahku.
“Oh, oke deh.
Yaudah, aku pulang dulu ya.” Serunya.
“Oke. Thanks ya.
Hati-hati ya.” Kataku, dan Kak Bagas langsung pulang ke rumahnya.
Besoknya aku
melanjutkan hukumanku. Dan aku terus bersekolah seperti biasanya. Tapi,
belakangan ini sikap Dyn terus berubah terhadapku. Kadang dia sangant tempramen
kepadaku, kadang juga dia sangat lembut kepadaku. Dyn jjuga sering menghindar
bila melihatku, dia juga sering pura-pura tidak melihatku jika berpapasan. Aku
merasa ada yang tidak beres dengan Dyn, tapi aku tidak mencoba untuk
menyelidikinya.
Angin, jujur
saja. Aku sedih dengan perubahan sikapmu, aku seperti kehilangan salah satu
bagian pazle dirimu. Angin, apa yang terjadi denganmu. Ketahuilah Angin, aku
menyayangimu. Jangan berubah wahai kasih, tetaplah menjadi dirimu yang dulu.
Angin yang aku kenal, yang selalu menghiburku, yang selalu membahagiakan
hatiku. Kembalilah ke sikap mu yang dulu, wahai Angin. Sikapmu yang menjadikaku
menyukaimu, bahkan menyayangimu.
Satu minggu
kemudian.
Ponselku
berbunyi, saat aku lihat, tenyata itu dari Dyn. Tanpa pikir panajng, aku
langsung mengangkat telfon darinya.
“Ya, Dyn?”
“Mat! Lusa kan
kita, perwailan mpk osis diundang ke acara hari kelulusan anak kelas 12. Nanti
lo bareng gue ya, kesananya. Sekalian gue pengen ngomong sesuatu ke lo nanti.”
Ucap Dyn.
“Oke.” Kemudian
pembicaraan berakhir.
Tidak beberapa
lama, ponselku bergetar lagi. Tanpa melihat itu dari siapa, aku langsung
menjawab panggilan tersebut.
“Hallo. Dyn! Apa
lagi?” Tanyaku.
“Hah? Mat, ini
Kak Bagas.”
“Eh? Maaf-maaf
kak.”
“Jadi kamu udah
di telfon Dyn?” Tanyanya penasaran.
“Emm, iya.
Emangnya kenapa kak?”
“Gini aja,
berarti besok kita ketemuan ya, di cafe blueberry jam 9. Eh jangan deh, nanti
aku jemput kamu aja dirumah kamu.”
“Lho, emangnya
ada apa kak?”
“Kamu udah aku
kasih tahu kan tentang perubahan sikap Dyn?”
“Ehem, tapi aku
gak masalah kok, kak. Kan lama-lama orang jadi dewasa, nah pasti ada masa
transisi dulu kan. Mungkin caranya Dyn kayak gitu, kali.” Jawabku.
“Enggak. Kamu
belum tahu semuanya, Mat. Pokoknya kamu harus tahu, Mat. Jadi, besok kamu harus
ikut aku ya, aku bakalan jelasin semuanya ke kamu. Kamu harus mau, Mat. Karna
kalo kamu gak mau, kamu bisa aja hancur, Mat. Inget ya, Mat. Jam 9 aku jemput
kamu di depan rumah kamu.”
Hari kelulusan
kelas 12.
“Ya Allah,
lindungilah aku.” Doaku dalam diam setelah aku selesai berdandan.
Kemudian aku
bergegas kebawah untuk menunggu Dyn yang akan menjemputku menggunakan mobil
beberapa menit lagi.
“Hai! Anak mama
cantik banget lho.” Ucap Mama sambil mencium pipiku.
“Wah iya, emang
anak papa yang paling cantik deh.” Ucap papa, juga. Sambil memeluk dan membelai
rambutku.
“Hehehee.. Mama
sama papa kemana aja sih? Emangnya baru tahu ya, kalo aku itu cantik?
Heheheee..”
“Eh, tapi kok,
bawa totebag. Kan mau ngadirin graduation, bawanya tas party dong, sayang.”
Kata Mama.
Awalnya aku
tidak berniat menjawab pertanyaan mama, aku hanya bisa menunduk. Memikirkan
bagaimana nasibku nanti. Tapi, karna aku takut mama akan kuatir, jadi aku
menjawab pertanyaan mama.
“Mama, ada satu
hal yang aku belum bisa bilang sekarang. Tapi aku janji, setelah aku pulang
nanti. Aku akan ceritain semuanya ke mama.” Tuturku.
“Sayang, jangan
bilang kamu mau kabur?”
“Enggak pa.
Pokoknya papa tungguin aku ya, jangan tidur dulu sebelum aku pulang.” Pintaku.
“Oke boss.”
Ucapnya.
*tin-tin!*
terdengar jelas suara klakson mobil Dyn.
Dengan
tergesa-gesa, aku berpamitan kepada mama dan papa, sekalian minta di doakan
agar tidak terjadi hal buruk terhadapku. Dan akhirnya aku dan Dyn berangkat ke
acara kelulusan kelas 12 di sekolahku.
Acara kelulusan
telah selesai, akhirnya aku pulang ke rumah. Tidak bersama Dyn, melainkan
dengan Kak Bagas.
Dirumah.
Mama dan papa
telah menungguku di teras rumah. Aku melihat mereka, awalnya aku ragu untuk
mendekati mereka berdua. Tapi, karna Kak Bagas meyakinkanku. Akhirnya aku
berlari ke arah mereka, dan memeluk mereka. Air mataku, dengan sekuat tenaga ku
coba untuk membendungnya. Tapi, kapasitasnya sudah tidak memungkinkan lagi, dan
akhirnya air mata mutiaraku terjatuh membasahi pipiku.
“Mata. Ada apa?
Kenapa pulang-pulang justru nangis? Mata, kok pulangnya gak bareng Dyn? Mata?”
Tanya mama sambil mencoba menghapus air mataku.
Papa hanya diam
melihatku, mungkin beliau sedang menelaah apa sebabnya aku menangis. Dan kenapa
aku pulang tidak bersama dengan Dyn, tapi justru dengan Kak Bagas. Aku juga
tidak mampu menjawab pertanyaan mama, aku hanya bisa menggelengkan kepala, tapi
air mataku terus menangis. Akhirnya, aku digiring mama untuk menuju ke kamarku
dan beristirahat. Aku pun terlelap dalam sunyi.
“Om, kalau
begitu. Saya pulang dulu, permisi.” Seru Bagas sambil menjabat tangan papa.
“Eh, tunggu.
Sebeanrnya apa yang terjadi dengan Mata?” Tanya papa.
“Saya gak berhak
ngejelasinnya om. Tadi Matahari udah bilang ke saya kalau dia bakalan kasi
tau ke mama dan papa nya, jadi mungkin
dia bakalan ngasi tau tentang kejadian kemarin dan tadi.” Tutur Bagas.
“Hah?”
“Om, larut malem
banget nih. Saya harus cepet-cepet pulang, saya balik dulu nih om.” Kata Bagas.
Namun dia kembali di tahan oleh papa.
“Bagas tunggu,
ini udah jam satu. Saya kuatir kamu di jalan kenapa-kenapa. Jadi kamu nginep
aja disini. Ada kamar sepupunya Mata yang lagi gak di tempatin, jadi kamu bisa
tempatin dulu. Gak usah nolak ya, ohya itu motor biar Mang Diri aja yang taro
di garasi.” Tutur papa.
“Eh? Iya deh om,
heeee.”
Besoknya.
Aku sudah duduk
disini, diantara papa dan mama juga Kak Bagas yang sepertinya semalam iya
menginap disini. Aku, masih bingung harus menjelaskan dari mana. Aku takut
menyakitit perasaan mama dan papa, apakah harus aku menceritakan ini semua.
Angin, kenapa
kau buatku seperti ini? Angin, tidak sadarkah kau, bahwa aku menyayangimu
dengan tulus. Tapi Angin, kini aku tersadar. Bukan kamu orangnya, bukan kamu
yang selama ini selalu menjagaku. Bukan, bukan kamu yang selama ini selalu
bersamaku. Jika memang kamu berfikir aku sebusuk itu, menghilang saja Angin.
Angin, tolong menghilanglah dari kehidupanku. Jangan buat aku tersakiti, lagi.
Aku menarik
nafasa dalam-dalam, bersiap menjelaskan apa yang terjadi semalam.
“Jadi...
Satu hari
sebelum hari kelulusan, Kak Bagas menjemputku dirumah jam 9 untuk pergi ke cafe
blueberry. Katanya ada banyak hal yang ingin dia katakan padaku. Tapi, sebelum
kita pergi ke cafe blueberry, Kak Bagas memintaku menemaninya membeli kado
untuk teman-temannya di pesta kelulusan. Dan setelah mencari-cari kado, Kak
Bagas menyatakan cintanya padaku.
“Mat, sebelum
aku ngomongin semua tentang hal-hal yang dilakuin Dyn akhir-akhir ini, aku
pengen ngomongin tentang perasaanku ke kamu dulu.” Ucap Kak Bagas.
Aku terdiam
sejenak. Deg. Entah apa yang dirasakan hatiku saat ini, yang jelas aku seperti
melanyang diangkasa dan tiba-tiba aku terjatuh hingga menapak di tanah.
Bahagia, namun menyakitkan. Entahlah, aku memang tidak pernah bercerita tentang
hubunganku dengan Kak Bagas. Ya, kami memang sangat dekat, seperti aku dan Dyn.
Tapi, Kak Bagas bega dengan Dyn, dia, lebih dewasa dan lebih perhatian. Entah
sejak kapan, aku juga suka dengan Kak Bagas, walaupun kenyataanya aku suka
dengan Dyn. Mereka berdua, sama-sama berharga, mereka berdua sama-sama menjadi perisaiku
dan moodboster di dalam hari-hariku. Ya, mungkin selama ini aku juga menyukai
Kak Bagas, tapi aku terus menangkalnya. Deg. Hatiku bergetar lagi.
“Mat.” Kak Bagas
menyadarkanku dari lamunanku.
“Eh, hem, iya,
ngomong aja kak.”
“Aku, aku, aku
sayang sama kamu sejak pertama kali kita ketemu. Hehe. Mungkin bisa dibilang,
cinta pada pandangan pertama. Eh, enggak deh, tapi, sayang pada pandangan
pertama. Heee.” Ucapnya singkat.
Aku terdiam
sejenak lagi. Kemudian aku berusaha untuk menjawab pertanyaan Kak Bagas, tapi
saat aku sudah membuka mulutku, dan siap untuk menjawab. Kak Bagas berbicara
lagi.
“Kamu gak perlu
ngejawab apa pun kok, Mat. Aku ngomong ini cuma pengen ngungkapin perasaan aku
ke kamu, itu aja kok. Jadi, kamu gak perlu nanggapin omongan aku tadi, dan aku
harap, setelah aku ngomong kayak tadi, kamu masih pengen dengerin cerita aku
tentang hal-hal dari Dyn yang berubah akhir-akhir ini, ya... sebulan ini lah,
paling enggak. Dan juga, setelah kamu denger ungkapan perasaan aku ke kamu,
kamu masih mau jadi temen aku. Ya, itu aja kok. Gak muluk-muluk, gimana? Tapi,
kalo kamu gak mau jadi temen aku, ya aku terima kok.” Katanya, panjang-l;ebar.
Aku menarik
napas dalam-dalam. Kemudian aku mengambil kesempatanku untuk berbicara, ya,
kali ini aku harus bicara.
“Oke.” Ucapku
singkat.
“Kita langsung
ke pokok masalah aja..” Katanya sambil membuka laptop yang dibawanya.
“... satu bulan
terakhir ini, aku sadar kalau Dyn itu berubah seratus persen, mungkin kamu juga
nyadarin kalo Dyn berubah, tapi gak seratus persen. Ya, aku cuam lebay-lebayin
aja sih, pake mark ‘seratus persen’ biar kamu lebih heran, tapi ternyata
enggak.” Lanjutnya, sambil menarik nafas.
“Semenjak aku
sadar kalau perlakluan Dyn ke kamu jauh berubah, aku mulai merhatiin dia
dalem-dalem. Dan karna semakin kesini, dia semakin berubah, aku jadi kayak detektif,
nyelidikin semua aktivitas dia, sampe rumahnya pun aku tanya ke kamu. Ya, dan
hasilnya, you must know. Aku kecewa sama dia, dia tau kalau kamu suka sama
dia.” Ucapnya
Aku, lagi-lagi
hanya bisa terdiam oleh ucapan Kak Bagas, hari ini dia seperti hakim yang
mengetahui semua perbuatan sang penjahat, dan sang pernjahat tidak bisa
mengelak apa pun. Eh, tapi-tapi, aku bukan penjahat. Jadi, lupakanlah
anggapanku tadi. Deg. Hatiku bergetar lagi.
“Mungkin kamu
lupa kalu dulu dia juga pernah suka sama kamu, jadi biar aku ingetin. Waktu itu
kalian duduk di kelas empat sd, dan kamu sama sekali belom ngerti apa arti
suka, sayang, dan cinta dengan bener. Dan disaat Dyn ngungkapin perasaannya ke
kamu, kamu justru bilang, ‘hellow!!! Dyn, please deh, kamu pikir cewek secantik
aku mau gituh jadi pacar kamu. Ih, lagi juga ya, kata mama aku tuh ya, kalo
masih sekolah terus cinta-cintaan, namanya tuh cinta monyet! Ih, beruntung kamu
jadi sahabat aku. Hahha enggak deh bercanda. Dyn sahabatku tercinta, kata mama
aku, kalo kita cinta-cintaan tapi masih sekolah, itu namanya bukan cinta, tapi
nafsu. And i know apa yang kamu ucapin tadi. Itu pasti Cuma boongan kan, kamu
kan kayak gitu, selalu ngerjain aku. Kemarin aja kamu bilang kalau mama aku
nungguin aku di kantin, jadi aku pas pulang sekolah jangan pulang dulu. Dan aku
percaya, aku nungguin sampe sore tau. Terus pas aku udah nunggu sampe jam lima,
kamu dateng dan bilang kalo kamu cuma boongan. Udah lah sobat, aku gak mau jadi
pacar kamu, huuu.’”
Aku diem lagi.
Lalu aku menjawab.
“Ha?” Entah itu
sebuah pertanyaan atau bukan, aku sendiri tidak mengerti.
“Ya kurang lebih
kamu ngomong kayak gitu lah, lanjut. Aku tau semua itu dari temen sd kalian,
namanya kamu gak perlu tahu. Dan kenapa aku kasih tau itu, karna itu adalah dasar
Dyn mau bales dendam ke kamu pas dia tau kalau kamu suka sama dia. Ternyata
saat aku selidikin lagi, selama satu bulan ini Dyn udah nyiapin semua rencana
balas dendamnya ke kamu tanpa ada seseorang yang tau, emm kecuali orang tuanya
sama satu sahabat cowoknya.”
“Mama sama papa
Dyn? Tau itu, tapi mereka gak coba bilangin ke Dyn?” Tanyaku kaget, dan tidak
percaya.
“Mereka diem
aja, aku juga gak tau apa alasannya, dan sorry karna aku gak sempet cari tau.
Jadi gini, di minggu pertaman bulan ini, dia sering ngajakin kamu ke taman dan
alasan beli sesuatu kemudian menghilang, betul kan?” Tanya Kak Bagas.
“Ehem.” Sambil
mengangguk-angguk. Ya, aku tidak pernah cerita tentang ini. Tapi, memang
begitulah kejadiannya.
“Itu karna dia
pengen kamu itu seneng banget di awalnya, terus dia mulai cuwek-cuwek
ditengah-tengha supaya kamu bete, terus dia manis-manis lagi supaya kamu seneng
lagi, nah terus dia pura-pura mau ngebeliin sesuatu atau mau pipis atau apalah
yang ada di pikirannya, dan setelah lama-lama-lama sekali dia gak balik-balik,
kamu sedih dan akhirnya pulang sendiri ke rumah. Itu terjadi selama tiga hari
di minggu pertama bulan ini.” Tuturnya.
Aku tidak bisa
menjawabnya, aku masih kaget, dan masih... masih tetep suka sama dia. Jadi, aku
hanya bisa tertunduk malu.
“Minggu ke dua,
dia ngajakin kamu pulang bareng selama tiga hari, dan itu selalu gak jadi,
dengan alesan yg beda-beda. Ajakan pertama, dia ngajakin dengan cara jutek,
terus kamu udh nunggu sampe satu jam dan dia baru nelpon kamu lagi dengan nada
jutek kalo dia udh pulang duluan karna tadi nungguin kamu kelamaan. Heeeeh,
bodoh banget. Oke lanjut, ajakan ke dua. Dia minta maaf karna kemaren gak jadi
bareng, tapi dia ngata-ngatain kamu dulu, ngeledekin kamu dulu, abis itu baru
ngajakin kamu pulang bareng lagi, sebagai modus cara minta maaf dia atas
kejadian kemaren. Heeee, klise banget. Setelah satu jam nunggu dan kamu udah
jalan mau pulang, dia tba-tiba nelpon dan nanyain kamu dimana, tungguin dia,
sebentar lagi kelas tambahannya selesai dan kamu tetep nugguin. Eh, setelah
satu jam kemudian lagi, dia nelpon kamu dan bilang kalo kamu pulang duluan aja
karna katanya kelas tambahannya selesai jam 7 malem. Dan akhirnya kamu pulang
sendirian lagi. Heee, dasar cowok gak ada komitmen.”
Aku tersenyum. Aku
ingat kejadian itu, saat Dyn menelponku untuk yang ke dua kalinya, itu sudah
pukul 6 sore, matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya, dan aku terpaksa
harus jalan kaki untuk pulang kerumah. Tapi, untungnya, tiba-tiba Kak Bagas
lewat di depan sekolah, dan dia menawariku untuk mengantarku pulang. Walaupun
aku sempat menolaknya, akhirnya aku menerimanya, tapi dia memintaku untuk
memberi tau rumah Dyn. Setibanya di depan rumahku, aku memberi tahu rumah Dyn.
Kemudian aku tersadar dari lamunanku, dan aku mempersilahkan Kak Bagas untuk melanjutkan ceritanya.
“Dan ajakan
ketiga, kamu udah bener-bener marah sama dia. Tapi dia terus ngiming-ngimingin
kamu segalah hal yang kamu suka, dia terus ngikutin kamu pas di sekolah setiap
tempat yang kamu tuju disekolah, dia ikutin. Sampe akhirnya kamu bosen dan kamu
terima maaf dia, terus pulang sekolahnya, dia berhentiin motornya di depan kamu
dan ngajak kamu pergi ketempat yang dia kasih tau ke kamu tadi pagi, karna itu
hari jumat dan besok libur, kebetulan kamu juga lagi males dirumah, jadi kamu
terima ajakannya. Heeeeee, ngebingungin banget. Tapi sayangnya, pas udah sampe
di mall, tiba-tiba dia dapet telpon dan bilang kalo dia harus jemput kakaknya
di stasiun jadi kamu harus pulang sendiri lagi, padahal kamu belom ngelakuin
apapun di mall itu.” Tuturnya.
Dia berhenti,
dan mulai mengatur napas, meminum jus strowberry yang tadi dia pesan. Aku juga
meminum jus jambuku, karna tiba-tiba aku merasa haus setelah mendengar cerita
Kak Bagas sejauh ini.
“Bisa di
lanjutin lagi, kak?” Tanyaku, dan dia langsung melanjutkannya.
“Minggu ke tiga
dia ngajakin kamu skype-an jam sepuluh malem, dan kamu oke aja. Terus jam
sebelasnya, cameranya gelap. Tapi sebenernya sih, dia emang nutupin kameranya
pake sprei biar kamu gak tau kalo sebenernya dia udh tidur dan dia muterin
rekaman suaranya dan kamu ngeladenin rekaman suara itu. Besoknya kamu ketauan
telat sama guru piket dan kamu di hukum. Kamu skype-an sama dia dua malem, dan
kamu juga telat dua hari. Tapi kamu dihukum empat hari. Sabar ya, aku tau kok
kamu enjoy ngejalanin hukuman kamu.” Katanya sambil tersenyum dan memberiku
semangat.
“Minggu
terakhir, minggu ke empat, dia bakalan ngelakuin rencana busuknya ke kamu,
besok. Oya, mungkin kamu heran aku tau dari mana semua perasaan kamu, dan semua
rencana Dyn. Semua perasaan kamu aku tau dari sahaba kamu di sekolah, dan semua
rencana Dyn aku denger dari percakapan dia sama sahabtnya itu dua minggu lalu.”
Aku tahu,
seharusnya aku tidak memberitahu sahabat bodohku itu tentang semua perasaan
yang ada hubungannya dengan aktivitasku bersama Dyn. Arghhhh! Sepertinya
sekarang aku sudah mulai marah dengan semua orang. Kak Bagas melanjutkan
omongannya.
“Oke lanjut.
Jadi yang aku tau ya, besok itu dia akan nembak kamu pake lagu romantis, terus
ngirimin paket bunga ke kamu, saat itu juga. Terus dia juga minta tiga puluh
anak kelas dua belas buat ngasih mawar merah ke kamu, tiga puluh mungkin
maksudnya tanggal besok kali, ya. Dia bakalan ngelakuin itu pas kamu habis
selesai padus sama temen-temen kamu yang anak kelas sebelas. Terus kalau
misalnya kamu jawab iya, dia bakalan bilang kalau ‘Mat, maaf deh, gue gak jadi
nembak lo, gue juga gak jadi ngasi bunga ini ke lo, semua yang lo liat barusan
lupain aja, gue tau kok lo itu sebenernya gak niat jadian sama gue. Lo cuma
pura-pura nerima gue biar lo gak dicap sama semua orang disini kalau lo itu
orang jahat karna gak nerima cinta gue, dan nanti pas kita udh selesai acara,
lo bakalan bilang ‘hellow!!! Dyn, please deh, kamu pikir cewek secantik aku mau
gituh jadi pacar kamu. Ih, lagi juga ya, kata mama aku tuh ya, kalo masih
sekolah terus cinta-cintaan, namanya tuh cinta monyet! Ih, beruntung kamu jadi
sahabat aku. Hahha enggak deh bercanda. Dyn sahabatku tercinta, kata mama aku,
kalo kita cinta-cintaan tapi masih sekolah, itu namanya bukan cinta, tapi
nafsu. And i know apa yang kamu ucapin tadi. Itu pasti Cuma boongan kan, kamu
kan kayak gitu, selalu ngerjain aku. Kemarin aja kamu bilang kalau mama aku
nungguin aku di kantin, jadi aku pas pulang sekolah jangan pulang dulu. Dan aku
percaya, aku nungguin sampe sore tau. Terus pas aku udah nunggu sampe jam lima,
kamu dateng dan bilang kalo kamu cuma boongan. Udah lah sobat, aku gak mau jadi
pacar kamu, huuu.’ Sama kayak waktu lo bilang ke gue pas kelas empat sd.’ Ya
dia bakalan ngomong kayak gitu. aku tau semua kata-kata dia yang bakalan di
ucapin besok dari data yang abis dia print di warnet, dia ngeprint di warnet
aku, pas dia lagi mainin hpnya aku langsung cepet-cepet aja ngopi file itu,
karna sebelumnya aku liat ada nama kamu di file itu.” Ucapnya. Sambil meminum
jusnya lagi.
Deg. Hatiku
bergetar lagi, entah itu getaran cinta dari Kak Bagas. Atau mungkin getaran
kekecewaan yang ku rasakan pada Dyn.
“Tapi kalau kamu
nolak dia, dia bakalan bilang. ‘Oke, gak papa, tapi dari dulu lo emang gak
berubah ya, tapi untungnya lo gak bilang, ‘hellow!!! Dyn, please deh, kamu
pikir cewek secantik aku mau gituh jadi pacar kamu. Ih, lagi juga ya, kata mama
aku tuh ya, kalo masih sekolah terus cinta-cintaan, namanya tuh cinta monyet!
Ih, beruntung kamu jadi sahabat aku. Hahha enggak deh bercanda. Dyn sahabatku
tercinta, kata mama aku, kalo kita cinta-cintaan tapi masih sekolah, itu
namanya bukan cinta, tapi nafsu. And i know apa yang kamu ucapin tadi. Itu
pasti Cuma boongan kan, kamu kan kayak gitu, selalu ngerjain aku. Kemarin aja
kamu bilang kalau mama aku nungguin aku di kantin, jadi aku pas pulang sekolah
jangan pulang dulu. Dan aku percaya, aku nungguin sampe sore tau. Terus pas aku
udah nunggu sampe jam lima, kamu dateng dan bilang kalo kamu cuma boongan. Udah
lah sobat, aku gak mau jadi pacar kamu, huuu.’ Sama kayak waktu lo bilang ke
gue pas kelas empat sd.’ Terus kayaknya dia bakalan acting nangis gitu deh.
Terus gimana caranya kamu ngadepin dia besok, Mat?” Kak Bagas selesai bercerita,
dan dia langsung bertanya kepadaku.
Aku belum bisa
berpikir jernih. Aku merasakan kesedihan yang mendalam, aku merasakan
kekecewaan yang mendalam, sekarang aku merasakan sakit hati karena cinta. Aku,
hanya terdiam. Sepertinya mataku memanas, air mataku rasanya hampir tak
terbendung lagi. Aku menundukan kepalaku, mulai menangis, bahuku hampir
berguncang, tapi aku mencoba mengendalikan emosiku di depan umum. Aku tidak
mungkin mempermalukan diriku disini, aku tidak mungkin mempermalukan Kak Bagas
disini. Aku menghapus air mataku sebelum berbicara lagi pada Kak Bagas, menarik
napas panjang dan mengeluarkannya. Ya, aku melakukan hal tersebut untuk
beberapa kali.
“Kita liat besok
aja ya, Kak. Sekarang aku mau pulang.” Kataku dan langusung mengambil tasku bersiap
untuk pulang ke rumah.
“Aku anter.”
Katanya. Aku tidak menolaknya.
Kemudian aku
pulang dengan selamat, tanpa mengucapkan sepatah katapun aku langsung masuk ke
dalam rumah dan ke kamarku, tapi aku sempat membungkukan tubuhku tanda ucapan
terima kasih, tanpa memperlihatkan wajahku. Tidak ingin orang-orang didalam
rumah melihat kondisi wajahku yang mengerikan, ya, karna perjalanan menuju
rumah tadi, aku hanya menangis, mungkin Kak Bagas tidak tahu, karna aku terus
mnenundukan kepala tanpa melihat ke arah manapun. Dari jam 5 sore sampai jam 8
malam keesokan harinya, aku hanya berdiam diri di kamar. Beberapa kali mama
mengetuk pintu kamarku dan mengajakku untuk makan, tapi aku hanya bilang bahwa
aku masih kenyang dan aku tidak ada niatan untuk makan bersama-sama, tapi aku
hanya menelpon Bibi Tipo saat pukul 4 pagi, aku memintanya untuk membawakan
makan ke kamarku, dan untungnya mama mengizinkanku untuk makan di kamarku. Oh
tidak-tidak aku lupa satu hal, jam 5 pagi aku keluar dari kamarku untuk sholat
subhuh dan setiap waktu sholat aku selalu keluar kamar. Setelah itu, aku tidak
menampakkan batang-hidungku lagi dirumah.
Jam 8 malam aku
sudah siap keluar rumah ruamh untuk hadir di acara pesta kelulusan kelas 12 di
sekolahku. Lengkap dengan short dress warna hitamku dan flat shoes juga ku
tenteng jaket kebanggaanku, kemudian aku pamitan dengan mama dan papa di teras
rumah. Dari sini aku sudah dapat melihat Dyn menjemputku dengan mobilnya yang
sudah terparkir di depan rumahku. Sekitar 1 jam, tepat acara pesta kelulusan
kelas 12 sudah dimulai. Aku tidak berbicara apa pun kepada Dyn, hanya
melemparkan senyum dan kemudian pergi meninggalkannya. Sejurus kemudian,
teman-teman paduan suaraku menghampiriku dan mengajakku untuk pergi ke
backstage untuk berkumpul dengan yang lainya. Tapi, setelah beberapa langkah,
aku bertemu dengan Kak Bagas dan dia hanya tersenyum dan berkata ‘Everything
will be alright. Fighthing!’ dan aku hanya membalas dengan senyuman, kemudian
pergi menyusul teman-temanku.
Akhirnya 30 menit
kemudian, band sekolah kelas 11 yang beranggotakan Dyn, Agus, Mischa, Edwin,
dan Alsa tampil selama 30 menit menghibur seluruh anak kelas 12. Setelah
penampilan mereka, aku dan ke 24 temanku bersiap-siap untuk tampil, 10 menit
lagi kami akan tampil selama 20 menit di atas panggung. Aku sudah siap
sekarang, dengan make up ku yang alakadarnya, dan hatiku yang sudah aku latih
dari kemarin malam. Aku sudah siap untuk menghadapi semua hal yang akan terjadi
nanti, aku sudah siap.
“Bismillah.”
Kataku sebelum naik ke atas panggung.
Aku melihat
mereka semua, mereka menatap kami dengan mata berbinar, memberikan senyum,
menmberikan tawa sekedarnya, ada juga yang memberikan semangat dengan
berteriak-teriak. Aku hanya melihat mereka dengan senyuman, mungkin aku sedikit
nervous, aku tahu itu, karena dari tadi telapak tanganku terus berkeringat.
Tiba-tiba Ratih menepuk pundakku dan meraih tanganku, ternyata dia mengelap
telapak tanganku dengan tissue. Lagi-lagi aku hanya bisa memberikan senyuman.
Kami sudah berada di posisi masing-masing dan kami mulai bernyanyi, satu lagu,
dua lagu, tiga lagu, sampai enam lagu kami nyanyikan.
Setelah kami
selesai menghibur semua orang, Dyn naik ke atas panggung. Aku tahu, semua ini
akan terjadi.
“Mat, tunggu
sebentar.” Kata Dyn sambil memegang pergelangan tanganku. Aku hanya diam,
menunduk, berusaha untuk tidak menangis.
“Aku mau ngasi
ini ke kamu.” Ucapnya, lagi.
Kemudian 30 anak
kelas 12 datang memberikan 30 bunga mawar kepadaku. Aku mengangkat kepalaku,
mencoba tersenyum kepada semua orang. Aku melihat ada yang berteriak senang,
ada yang bertepuk tangan, ada yang tertawa, tersenyum, ada juga yang hanya
tercengang melihat tingkah Dyn kepadaku. Teman-teman padusku juga hanya
tersenyum, dan mereka sengaja turun dari panggung dan membiarkan aku dan Dyn
berdua di atas panggung ini. Aku juga bisa melihat ada balon berbentuk hati
dengan tulisan namaku, dan disitu juga ada bunga-bunga cantik, aku suka itu
semua, tapi aku tidak suka dengan apa yang akan dilakukan Dyn.
“Kita sahabatan
udah lama, dari kita tk sampe sekarang juga kita masih sahabatan. Entah sejak
kapan perasaan ini ada dihati aku, mungkin sejak kita sd, tapi kamu bisa jadi
gak sadar akan hal itu. Aku suka sama kamu, sayang sama kamu, lebih dari
sekedar seorang sahabat, Mat. Aku cinta sama kamu. Aku.. aku.. aku mau kamu
jadi pacar aku, Mat.” Ucapnya.
Aku terdiam,
tiba-tiba aku merasakan pipiku sudah basah oleh air mata. Aku tertunduk, aku
merasa malu, aku juga merasa sedih. Angin, kenapa kamu jadi seperti ini. Kenapa
kamu jadi seseorang yang menyimpan dendam, entahlah apa yang kamu pikirkan,
tapi aku kecewa denganmu. Angin, pergilah saja dengan semua dendammu
terhadapku, biarkan aku sendiri tanpa dirimu disisiku. Angin, mungkin aku
egois, mungkin aku terlalu takut untuk disakiti. Tapi aku mohon jangan lakukan
semua ini, pergi saja.
“Terima! Terima!
Terima!” sayup-sayup aku mendengar terikan dari orang-orang.
Aku mulai
memberanikan diri, menatap semua orang. Dan saat ku angkat kepalaku, aku
melihat sebagian dari mereka sudah mendakati panggung, bahkan aku juga bisa
dengan jelas, ternyata dia sudah berada persis
dibawah panggung. Aku menatap Kak Bagas ragu, hampir air mata ini jatuh lagi,
tapi untungnya aku bisa menahannya. Dan saat aku menatap Kak Bagas lagi, dia
menatapku dengan penuh keyakinan, membuat ku sadar aku harus melakukan tindakan
terhadap Dyn. Saat itu pun, aku berbicara kepada Dyn dengan perlahan namun
pasti.
“Dyn, emang
bener kita udah sahabatan dari kita tk. Aku masih inget Dyn, pas waktu kelas
empat sd, kamu bilang kalo kamu suka, sayang mungkin juga cinta sama aku, dan
apa yang kamu denger dari jawaban aku? Aku justru bilang ‘hellow!!! Dyn, please
deh, kamu pikir cewek secantik aku mau gituh jadi pacar kamu. Ih, lagi juga ya,
kata mama aku tuh ya, kalo masih sekolah terus cinta-cintaan, namanya tuh cinta
monyet! Ih, beruntung kamu jadi sahabat aku. Hahha enggak deh bercanda. Dyn
sahabatku tercinta, kata mama aku, kalo kita cinta-cintaan tapi masih sekolah,
itu namanya bukan cinta, tapi nafsu. And i know apa yang kamu ucapin tadi. Itu
pasti Cuma boongan kan, kamu kan kayak gitu, selalu ngerjain aku. Kemarin aja
kamu bilang kalau mama aku nungguin aku di kantin, jadi aku pas pulang sekolah
jangan pulang dulu. Dan aku percaya, aku nungguin sampe sore tau. Terus pas aku
udah nunggu sampe jam lima, kamu dateng dan bilang kalo kamu cuma boongan. Udah
lah sobat, aku gak mau jadi pacar kamu, huuu.’” Aku berhenti sejenak untuk
menarik nafas.
“Jahat banget ya
aku, Dyn. Aku mau minta maaf, Dyn sama kamu. Mungkin perkataan itu udah buat
kamu sakit hati, aku emang bodoh Dyn, aku gak pernah mikir kalo semua perkataan
aku bakalan nyakitin kamu, maafin aku ya, Dyn. Jujur ya Dyn, sejak kita sma,
perasaan aku ke kamu juga berubah Dyn, bukan sekedar sayang atau suka sebagai
sahabat Dyn, tapi lebih dari itu. Cuma, kemarin perasaan itu udah berubah lagi
Dyn, aku sakit hati sama kamu, tapi aku tetep sayang kok Dyn sama kamu, tapi
sayang itu udah berubah jadi sayang sebagai sahabat Dyn. Maafin aku ya, Dyn.
Untuk sekarang aku gak bisa jadi pacar kamu.” Aku mulai menatap matanya. Aku
sudah liat kalau Dyn akan siap-siap berbicara, namun aku langsung melanjutkan
semuat perkataanku yang ingin aku katakan selama ini ke Dyn.
“Mungkin kamu
bakalan bilang kalo aku sama aja kayak dulu, gak pernah ngertiin perasaan kamu,
aku itu egois. Maafin aku Dyn, tapi aku bener-bener kecewa, aku udah tahu semua
rencana kamu Dyn. Aku sedih, tapi aku coba terima.” Aku mulai melihat ke semua
orang, mereka menatapku bingung.
“Aku tahu, semua
disini pasti pada bingung dengan ucapanku barusan, tapi aku tidak ingin
mengungkapkan maksud dari perkataan ku. Dyn, sekali lagi aku minta maaf karna
gak bisa jadi pacar kamu. Dan alasan kenapa aku gak bisa jadi pacar kamu,
karna.. karna.. aku udah pcaran sama Kak Bagas, kemarin dia baru nembak aku.
Aku minta maaf ya, Dyn. Tapi aku mohon kamu tetep jadi temen aku.” Kataku, dan
langsung diam. Semua orang diam, menatap ke arahku, juga arah Kak Bagas. Kak
Bagas juga diam, dia tidak memunculkan ekspresi sedih, senang, atau apapun.
Ekspresi yang aku lihat darinya hanya datar.
“Heh, gue udah
tau kok lo bakalan bilang itu, gue juga udah tau alasan lo, ggue udah tau
semua, Mat. Gue tau alasan lo tuh cuma palsu, Mat! Bullshit! Kenapa sih, Mat.
Lo ngelakuin ini ke gue? Padahal tadi pas kita berangkat, lo bilang kalo lo itu
belom punya pacar kan, Mat. Kenapa sih, Mat lo ituh selalu mempermalukan gue di
depan orang banyak. Kenapa, Mat? Gue kecewa sama lo! Terus lo bilang lo pengen
jadi temen gue, Mat? Lo ituh egois, Mat! Udah malu-malu ini gue di....”
*BUGHHH!
Satu pukulan
keras dari seseorang yang sudah berada di atas panggung, Kak Bagas. Dia sudah
berdiri diantara aku dan Dyn. Aku melihat kearah Dyn yang tersungkur, bibirnya
mengeluarkan sedikit darah, aku melihat ke semua orang, sekarang mereka sedang
tercengang, sama sepertiku.
“Dyn! Stop
nyalahin Matahari.” Kata Kak Bagas.
“Apa urusannya
sama lo, hah? Lo mau bela dia? Ya iyalah, lo kan abis dibilang jadi pacar dia,
pastinya lo seneng dan pura-pura jadi hero! Basi lo!” Kata Dyn dan langsung
membalas pukulan dari Kak Bagas. Untungnya Kak Bagas tidak membalasnya lagi.
“Dyn, jangan
sampe gue bocorin semua rencana busuk lo ya!” Seru Kak Bagas.
“Rencana busuk
apa, sih?” Aku tertunduk dan menangis melihat tindakan mereka.
“Oke. Ini
rencana busuk lo! Gue minta mic, cepetan.” Kata Kak Bagas dan mengeluarkan
ponselnya.
Beberapa saat
kemudian, rekaman percakapan Dyn dengan temannya di putar. Semua orang semakin
tercengang, aku semakin menangis. Tapi, saat Kak Bagas melihatku, dia langsung
mematikan rekaman suara tersebut. Dia menarik tanganku kasar, dan membimbingku
untuk turun dari panggung. Aku mendengar teman-teman Kak Bagas meneriakan
namanya.
“Gas! Woy, lo
mau kemana?” Kata seseorang yang tidak aku ketahui siapa.
“Pulang!
Acaranya udah selesai ini!” Kata Kak Bagas tanpa sedikitpun menengok ke
belakang.
Aku langsung mengambil
jaketku yang aku letakan di tempat penitipan barang, dan mengenakannya. Setelah
itu, aku dan Kak Bagas langusung pergi
ke tempat parkir.
“Kak.” Kataku
sambil menarik jas yang dikenakannya, untuk memberhentikan langkahnya.
“Mat, maafin aku
ya.” Katanya.
“Gak apa, kok.
Kak, aku gak mau jadi temen kamu.” Tuturku dan memberanikan diri menatap
matanya.
“Hem, yaudah.
Yang penting sekarang kamu aku anter pulang ya.” Ucapnya sambil berjalan menuju
motornya. Tapi aku kembali bisa menahannya.
“Aku, gak mau
jadi temen kamu. Tapi aku mau jadi pacar kamu.”
Kak Bagas
tersenyum, dan langsung mengajakku untuk pulang kerumah. Aku, biarlah menjadi
seperti ini. Disinggahi angin sejuk lalu ditinggal pergi dan hanya tersisa
panas, kemudian kesejukan menemaniku saat angin tak ada disini bersamaku.
Komentar
Posting Komentar