Postingan

Episode 1 - 31 Hari Bersama Langit Senja

“Eh, lambat-lambatin aja beresin lapangannya, biar gak belajar pelajaran Pak Mansur.” Seru Pito, atlet kebanggan sekolah yang kebetulan jadi sahabat gue. “Iya, gue juga lagi nyari barang ilang.” Jawab gue setuju, begitupun yang lain. Kalian pasti gak asing kan dengan tradisi ini, setiap kelas yang kebagian jadi petugas upacara pasti selalu memanfaatkan waktu ini untuk tidak mengikuti jam pelajaran pertama, apalagi kalau senin pagi dengan mata pelajaran berikut guru yang engga kita suka. Sekalian mengulur waktu, gue pun masih terus mencari barang hilang milik orang itu, Deandra. “Selampe lo?” Tanya gue pada Pito yang sedang mengibaskan kain kecil itu. “Bukan, tapi nih ya, kalo yang punya selampe ini cowok ya gue balikin aja, tapi kalo yang punya ini cewek, you know lah, gue jadiin pac..” Pito belum sempat menyelesaikan kalimatnya tapi tangan gue udah mendarat di kepalanya. “..apaan sih?!” “Sini ah selampenya, ini punya calon pacar gue.” Ujar gue sambil ngerebut kain kec...

Pengantar - 31 Hari Bersama Langit Senja

PENGANTAR Ternyata bener ya kata orang-orang, jangan ngomong tentang hal yang tabu, misalnya bilang bahwa gue gak mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama, lucu juga sih kalau diinget. Namanya Deandra, anak kelas 10 SC, tepat setelah upacara selesai, gue lagi bantu beresin papan baris per kelas, ngeliat dia yang lagi celingukan bingung di depan papan itu, gue langsung suka sama dia, langsung ngeliat name tag nya. Emang aneh sih, orang lagi celingukan kok malah disukain. “Misi, tadi liat selampe yang jatuh sekitaran sini gak ya?” ujarnya saat itu. “Kaya gimana? Belum liat apa-apa sih di sekitar sini.” “Selampe nya tipis, warna navy.” “Oh belum liat, nanti saya bantu cari, kamu masuk kelas aja. Anak yang gak tugas gak boleh telat masuk kelas kan.” “Oh iya, makasih.” Sambil menundukan kepala, dia beranjak pergi. “Eh kelas mana?” Masih sambil berlari kecil keluar lapangan “sepuluh mia tiga!” teriaknya. Kalau diingat, begitulah pertemuan pertama kita yang singkat...

Inspirasi Anak Nusantara

Saya ingin Indonesia selalu satu dan selalu maju. Saya ingin rakyat Indonesia tidak ada yang bermusuhan apalagi sampai ada perang antar suku, seperti yang terjadi di daerah Timur.   Saya ingin alam Indonesia kembali seperti dulu. Sungai-sungai masih bersih, hutan-hutan masih terjaga, sebagai contohnya, dulu sungai Ciliwung mendapat julukan dari dunia yaitu “Surga dari Timur”, tapi justru sekarang julukan itu berubah menjadi “Kuburan dari Timur”. Saya ingin Indonesia tetap melestarikan hutan-hutan di Indonesia, hutan yang menjadi paru-paru dunia.Indonesia merupakan penyumbang paru-paru terbanyak di dunia. Tapi setiap tahunnya, hutan-hutan di Indonesia selalu berkurang.             Untuk mewujudkan Indonesia selalu satu dan selalu maju, rakyat Indonesia harus selalu menghargai satu sama lain. Tidak ada perbedaan antar suku, anatar agama, status sosial. Saat di muka umum, semua anggapan tentang perbedaan itu harus kita hil...

Angin

Angin, anggap saja aku sahabatmu yang akan selalu mengiringi jalanmu. Angin, abaikan saja aku, dan tetaplah melangkah menuju mimpimu. Kamu, sang Angin yang aku dambakan, yang meniupkan hawa kegembiraan padaku. Kamu, Angin yang entah datangnya dari mana, tapi tetap aku kagumi. Angin, salahkah aku bila mencintaimu? Mungkin kah ini hanya cinta satu arah? Angin, kenapa kamu biarkan aku merasakan ini. Tidakkah kamu tahu, wahai Angin. Aku selalu disini, memandangmu, mengagumimu disetiap waktu luangku. Angin, bukan maksudku menyalahkanmu, tapi biarlah aku meceritakan semua perasaanku padamu. Angin, bukan maksudku menyimpan dendam dihati. Bukan maksudku juga, meninggalkanmu disaat kamu terpuruk. Angin, maafkan aku atas sikapku yang egois. Tapi, apalah daya, aku sudah tidak bisa berpura-pura seperti dulu lagi. Sekarang semuanya telah berbeda, aku lelah menjalani hari-hari dengan penuh kebohongan atas perasaanku sendiri. “Mat, lagi apa?” Seru Dyn. “Lagi nonton film nih, jangan ikutan y...