Episode 1 - 31 Hari Bersama Langit Senja

“Eh, lambat-lambatin aja beresin lapangannya, biar gak belajar pelajaran Pak Mansur.” Seru Pito, atlet kebanggan sekolah yang kebetulan jadi sahabat gue.
“Iya, gue juga lagi nyari barang ilang.” Jawab gue setuju, begitupun yang lain.

Kalian pasti gak asing kan dengan tradisi ini, setiap kelas yang kebagian jadi petugas upacara pasti selalu memanfaatkan waktu ini untuk tidak mengikuti jam pelajaran pertama, apalagi kalau senin pagi dengan mata pelajaran berikut guru yang engga kita suka. Sekalian mengulur waktu, gue pun masih terus mencari barang hilang milik orang itu, Deandra.

“Selampe lo?” Tanya gue pada Pito yang sedang mengibaskan kain kecil itu.
“Bukan, tapi nih ya, kalo yang punya selampe ini cowok ya gue balikin aja, tapi kalo yang punya ini cewek, you know lah, gue jadiin pac..” Pito belum sempat menyelesaikan kalimatnya tapi tangan gue udah mendarat di kepalanya.
“..apaan sih?!”
“Sini ah selampenya, ini punya calon pacar gue.” Ujar gue sambil ngerebut kain kecil itu dari Pito.
“Dih, pede gila lo. Eh denger ya, lo tuh gak mungkin suka sama orang, lo kan masih sakit hati sama si Jingga, masih ingetkan sama Jingga?”

Demi bumi dan seisinya, Pito emang sahabat gue tapi dia gak pernah bertingkah layaknya sahabat yang mengajarkan temannya untuk move on, dia selalu menekan gue untuk selalu ingat tentang Jingga-mantan gue-yang gue ingat dia ninggalin gue demi cowok lain, klise emang. Jingga, dia cuma bagian dari masa lalu gue, toh kisah cinta gue dan Jingga bukan seperti gue dan Deandra. Gue engga jatuh cinta sama Jingga pada pandangan pertama, tapi karena waktu yang membuat gue pernah sayang sama dia. Oke, mari kita lupakan Jingga dan kembali fokus dengan Deandra.

“Brisik. Jingga masa lalu, Deandra masa kini. Gue tuh harus move on To, lo kenapa sih ngungkit Jingga terus, heran gue.”
“What? Jadi lo udah kenalan sama yang punya selampe ini? Sadis.” Iya, begitulah Pito, selalu membawa nama Jingga di tengah percakapan, kemudian menghilangkan nama itu seolah tidak pernah ada yang menyebutnya.
“Belum, tadi gue baca name tag dia, dia kehiangan ini barang, terus gue bantu cari, ya sekarang udah ketemu, gue yang balikin lah.” Pito hanya mengangguk.
“Lo tau To, gue baru kali ini ngeliat cewek, terus langsung suka, sayang, cinta, apalah itu sejenisnya. Gak semacem yang sebelum-sebelumnya.” Lanjut gue.
“Sebelum-sebelumnya? Maksud lo, Jingga? Kan mantan lo cuma dia doang.”
“Iya. Udah ah masuk kelas, yang lain juga udah pada ngilang tuh.”

            Baru banget tiba di kelas dan merebahkan pantat di kursi yang empuk ini, Pak Mansur udah masuk aja. Iya, jam kedua ini masih pelajaran beliau. Padahal mata pelajaran beliau itu music dasar, tapi gak ada satu pun anak kelas gue yang suka sama pelajaran ini. Menurut gue pun, cara ngajar Pak Mansur bisa dibilang enak, ya mungkin emang anak sosial di kelas gue aja kali ya, yang terlalu bodoh untuh menerima pelajaran dari beliau sampai males kaya gini. Sepert biasa, setiap pelajaran MD gue selalu duduk di depan. Gue bukan anak rajin, hanya saja guru seperti Pak Mansur bukan tipe guru yang cuma memperhatikan murid bagian depan, tapi sebaliknya. Jadi bagi mereka yang sedang ingin mendapatkan perhatian Pak Mansur untuk dapat nilai bagus, ya pindah ke belakang, sedangkan gue hanya sesekali ke belakang, kalau mau ujian doang.

            Ketika bel jam istirahat pertama berbunyi, gue langsung pergi ke kelasnya Deandra tentunya dibuntutin Pito yang penasaran dengan paras cantik adik kelas itu. Iya Deandra adik kelas gue, dia kelas 10 dan gue kelas 12 tepatnya 12-SOS. Gini ya, gue jelasin sekarang aja biar kalian tau bagaimana sekolah gue dan seisinya. Gue gak bakal nyebutin nama sekolah ini, karena takut kalian nyari di Google dan ketaun seluk beluk cerita ini.

Oke jadi sekolah ini punya tiga tingkat, pertama tingkat SD atau elementary, kedua tingkat SMP atau junior school, dan yang ketiga tingkat SMA atau senior school. Di senior school ini punya 3 tingkat seperti sekolah pada umumnya, hanya saja ada sedikit perbedaan di pembagian kelasnya. Sekolah gue ini punya 4 peminatan dijenjang SMAnya, yaitu ilmu alam, ilmu sosial, ilmu seni, dan ilmu bahasa. Peminatan ini baru bisa kita dapetin di kelas 2, jadi total kelas setiap tingkatan di SMA hanya ada 4 dan masing-masing kelas terdiri dari 25 anak. Ya itulah keunikan sekolah gue, mengenai bangunan sekolah ini akan gue jelaskan sambil bercerita dalam alur cerita ini. Jadi gunakan imajinasi kalian dengan baik.

Sampai di depan kelas Deandra, gue langsung celingukan mencari cewek itu tapi gak ketemu. Pito sang idola di sekolah karena jadi atlet sekolah yang ditopang dengan wajah tampannya langsung melontarkan pertanyaan ke penjuru kelas yang sedari tadi sedang menatap dia sambil tersenyum senang (mostly girl).

“Permisi, ada yang liat Deandra? Temen saya lagi nyariin dia”
“Itu mas, yang lagi tidur” ucap perempuan yang berada di depan kami sambil menunjuk ke arah barisan tingkat 2.

Seluruh mata langsung tertuju pada perempuan yang sedang tertidur itu, teman disebelahnya pun membangunkan Deandra. Gue dan Pito langsung menuju ke Deandra melewati sinar proyektor yang masih menyala, tanpa basa-basi kami berkenalan.

“Halo, sorry ya ganggu jam tidur lo, gue cuma mau balikin selampe yang tadi ilang doang.”
“..dan mau kenalan juga” tambah Pito.
“Oh makasih, aku Deandra.”
“Gue Pito, kalo dia Senja.”
“Senja?” ucap Deandra agak bingung.
“Iya, Senja. Lo gak salah denger ko, mungking biar lebih familiar, lo bisa panggil gue Sena.”
“Engga, panggil Senja aja, udah pas, biar lebih puitis” timpal Pito.

Gue sempet ngeliat teman di samping Deandra berbisik tentang kita yang merupakan kakak kelas mereka. Mungkin dia ingin mengikut tradisi sekolah ini, menggunakan panggilan mas dan mba untuk kakak kelasnya.

“Oke Mas Pito dan makasih juga Mas Senja udah nyariin selampe aku.”
No Problem, oh iya teman mu ini namanya siapa?” tanya ku”
“Nama aku Ambar mas.”
“Halo Ambar, salam kenal ya. Yaudah deh, kami balik ya, selamat menikmati awal perjalanan di sma ini, Ambar dan Dean.” Ucap gue sambil menuruni tangga barisan dan dijawab dengan anggukan juga senyuman dari mereka berdua.

            Keluar dari kelas mereka, gue dan Pito kembali ke kantin, menyelusuri lorong kelas 10 ini, ternyata tahun ajaran baru ini cukup banyak orang yang diterima menjadi siswa baru di SMA. Selama melalui lorong ini, gue sempat memergoki beberapa orang yang menatap kami berdua kagum. Semua lorong sekolah ini tidak ada yang khusus, seperti lorong sekolah pada di Korea Selatan pada umumnya. Ya sekolah kami mengadaptasi bangunan sekolah pemerintah di negeri gingseng tersebut. Cukup unik untuk denah sekolah di Indonesia yang biasanya berbentuk huruf U atau L atau bahkan angka 8. Tapi seperti yang gue bilang sebelum nya, bahwa sekolah gue ini unik, jadi kalian mungkin bisa menemukan banyak hal di sini.

            Tiba di kantin, gue langsung mencari tempat duduk yang kosong agar tidak di tempati oleh orang lain, sedangkan Pito bertugas memesan makanan kami. Kantin SMP dan SMA digabung, sedangkan kantin SD dipisah. Kantin ini bisa dibilang cukup luas untuk ukuran penggabungan kantin, cukup menampung seluruh pelajar SMP dan SMA yang sedang istirahat berbarengan. Namun sayangnya, sisi luar dari tempat duduk di kantin ini sudah terisi orang dan gue pun hanya menemukan tempat duduk yang berada tepat di tengah ruangan ini.

            Gue sedikit sangsi untuk duduk di titik ini, karena gue yakin nantinya semua orang akan memberikan fokusnya pada tempat ini. Dimana ditempat ini tentunya ada gue, juga Pito, dan mungkin beberapa teman gue nantinya akan ikut bergabung nongkrong di sini. Ada orang selain Pito, yang selalu ada bersama gue, mereka jauh lebih berpengaruh dan lebih diidolakan daripada Pito, apalagi gue.

“Akhirnya dateng juga lo.” Ungkap gue ketika melihat Pito mendekati tempat duduk yang gue tempati.
“Nih, siomay gratis dari gue karena lo orang pertama tercepat yang dateng ke sini.”
“Iye terserah lo.”
“Mana yang lain?”
As always, sibuk tebar pesona saat istirahat pertama.”
“Gembel emang tuh pada.”
“Tapi biasanya lo juga gitu kan, tumben aja nih sekarang enggak.”
“Kata siapa? Udahan gue.”
“Hah? Kapan met? Dari tadi kan lo sama gue terus? Wah jangan-jangan lo lama tadi bukan gara-gara ngatri ya? Tapi malah tebar pesona? Si kampret emang!”
“Engga lah! Itu gue mah beneran ngantri. Lah emangnya lo gak nyadar yak kalau tadi pas nganterin lo, gue udah tp-tp ke adek kelas imut imut itu.”
“Idih. Bodo amat, gue engga mau dengerin.”

            Cerita tidak sampai di situ, Pito selalu punya cerita tentang banyak hal. Korban nya selalu gue yang harus mendengarkan, karena gue adalah orang terdekatnya yang paling punya banyak waktu. Walaupun Pito terus yang bercerita, gue tetap menjadi pendengar aktif yang terkadang gue pun menjadi sender dalam dialog ini.

“Tapi To, entah kenapa ya To, si Deandra itu beda banget aura nya, gue yakin lo pasti juga sepaham kalau dia itu beda sama kebanyakan cewek pada umumnya.”
“Emm, iya sih, menurut gue dia beda dari mereka. Terus menurut lo, dia mirip Jingga gitu?”
“To, please be serious.” Seperti yang gue bilang sebelum-sebelumnya, Pito terkadang akan mengaitkan pembicaraan kami pada Jingga. Mungkin nanti gue akan menjelaskan lebih detail tentang Jingga, yang bukan hanya sekedar mantan sebenarnya.
“Gue serius Sen, denger ya, kali ini gue gak akan lari ketika gue menyebut nama Jingga, dan sekarang gue tanya ke lo. Terus menurut lo si Dean itu mirip Jingga?”
“Ooo-kay, but I’m not sure.”
“Sen, persetan lah dengan jatuh cinta pada pandangan pertama, dari kita berlima, orang yang paling gak setuju dengan kalimat itu ya lo. Terus sekarang lo bilang kalau lo kemakan sama kalimat itu? That’s no sense, gue bahkan gak tau riwayat dia seperti apa Sen.”
“Itu dulu To, ketika gue belum pernah ngeliat Dean, oh dan lo gak harus tau riwayat hidup semua orang To, please stop using your power to search someone background! That’s unethic!”
I’m not using it for my own advantage yah, but it’s for you. Your family need you, and I’ll not let anyone come near you, without my permission or something. Dude, please wake up, it’s Dean-someone that you just know less than one day! She’s Dean, classify as a stranger, not as good as Jingga.”
“Sulit To buat bahas ini sekarang, masih terlalu dini. Mungkin lo bener, gue gak seharusnya menetapkan hati dan meyakinkan hati gue saat ini, dimana kondisinya gue baru enam bulan putus sama Jingga. Tapi please To, jangan larang gue buat ngedeketin Dean, gue butuh seseorang untuk bantu gue melupakan Jingga, mungkin Dean bisa.”
“Lo boleh suka sama Dean, tapi gue harap rasa suka lo ke Dean itu bukan karena pelarian dari Jingga. Sen inget ya, mungkin aja ada hal yang gak lo tau dari Jingga sampai dia mutusin untuk pergi dari lo, dan sampai sekarang pun gak ada dari kita berlima di mana dia sekarang. Oh kalau buat Dean, gue titip pesen aja, jangan sampai lo sama in Dean dengan JIngga, karna lo tau setiap manusia itu unik dan berbeda, walaupun sekilas mereka terlihat sama.”
“Okay Pito.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Thousand Years-Christina Perri